Bulan Muharram menandai awal tahun baru dalam kalender Hijriah, sebuah momentum berharga yang selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Kehadiran bulan ini membawa atmosfer spiritual yang kental, sehingga penyampaian khutbah jumat bulan muharram menjadi kesempatan emas untuk menyebarkan pesan kebaikan.
Melalui mimbar Jumat, nilai-nilai perubahan, evaluasi diri, dan peningkatan iman dapat disampaikan secara mendalam kepada jemaah. Pemilihan topik yang tepat akan membantu mengarahkan perhatian umat Islam agar dapat memanfaatkan hari-hari mulia ini dengan amalan yang sesuai dengan syariat agama.
Pertambahan tahun dalam Islam bukan sekadar pergantian angka, melainkan sebuah pengingat akan berkurangnya jatah usia di dunia. Oleh karena itu, materi khutbah yang disampaikan harus mampu menggerakkan hati dan memberikan panduan nyata bagi kehidupan sehari-hari.
Ragam Inspirasi Tema Khutbah Jumat Bulan Muharram
Setiap tema khutbah memiliki fokus dan pesan moral tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan jemaah. Berikut adalah penjabaran mengenai topik-topik yang sangat relevan untuk diangkat sepanjang bulan suci ini:
1. Spirit Peningkatan Kualitas Ibadah
Memasuki tahun baru Islam, fokus utama yang perlu dibangun adalah semangat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tema ini mengajak jemaah untuk melakukan refleksi atas ibadah yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.
Fokus pembahasan dapat diarahkan pada pentingnya menjaga konsistensi (istiqomah) dalam menjalankan kewajiban serta memperbanyak amalan sunah. Pesan utama dari topik ini adalah menjadikan momen Muharram sebagai titik balik untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan beralih menuju produktivitas spiritual yang lebih tinggi.
2. Bulan Istimewa, Penuh Keutamaan, dan Penghapus Dosa
Sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang disucikan, Muharram memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Khutbah dengan tema ini dapat mengupas tuntas dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis mengenai larangan berbuat zalim serta pelipatan pahala atas amal saleh yang dilakukan di bulan ini.
Selain itu, materi dapat difokuskan pada keutamaan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, yang berdasarkan sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu.
3. Merenungi Makna dan Hikmah Hijrah
Penetapan kalender Hijriah tidak lepas dari peristiwa besar hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Mengangkat tema hikmah hijrah akan memberikan pemahaman mendalam bahwa hijrah tidak hanya bermakna perpindahan fisik secara geografis. Di era modern, konsep hijrah perlu ditransformasikan menjadi perjuangan batin untuk berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, serta dari sifat egois menuju kepedulian sosial.
4. Kepedulian Sosial dan Anjuran Menyantuni Anak Yatim
Bulan Muharram juga dikenal luas oleh masyarakat sebagai momentum yang tepat untuk memperkuat ikatan sosial, khususnya dalam memberikan perhatian kepada anak-anak yatim. Khutbah jumat bulan muharram dengan topik kepedulian sosial dapat menjelaskan bahwa menyantuni anak yatim merupakan wujud cinta yang nyata kepada Rasulullah SAW.
Penjelasan mengenai kedudukan orang yang mengasuh anak yatim di surga kelak—yang digambarkan sedekat jari telunjuk dan jari tengah dengan Nabi—akan menjadi dorongan moral yang sangat kuat bagi jemaah untuk lebih gemar bersedekah.
5. Pendekatan Budaya Melalui Khutbah Bahasa Daerah
Penyampaian pesan keagamaan juga dapat dioptimalkan melalui khutbah berbahasa daerah, seperti Bahasa Sunda dan Bahasa Madura. Topik yang diangkat tetap berakar pada kemuliaan dan amalan di bulan Muharram, namun disampaikan dengan tutur kata lokal yang santun.
Pendekatan ini sangat efektif untuk diterapkan pada masjid-masjid di lingkungan masyarakat adat atau pedesaan, karena mampu menciptakan kedekatan emosional dan mempermudah penyerapan pesan-pesan agama secara lebih natural.
Faktor Utama dalam Memilih Topik Khutbah
Agar pesan yang disampaikan dari atas mimbar dapat diterima dengan baik dan menghasilkan perubahan perilaku pada jemaah, seorang khatib perlu memperhatikan beberapa hal esensial dalam penyusunan materi:
- Kesesuaian dengan Kondisi Jemaah: Pilihlah tema yang paling dibutuhkan oleh mayoritas jemaah yang hadir di masjid tersebut. Jika lingkungan sekitar masjid memiliki banyak anak yatim atau keluarga kurang mampu, tema kepedulian sosial akan terasa sangat kontekstual.
- Keakuratan Dalil yang Digunakan: Pastikan seluruh hadis dan riwayat yang dicantumkan dalam naskah khutbah memiliki derajat yang sahih atau hasan, terutama saat menjelaskan fadhilah atau keutamaan amalan tertentu di bulan Muharram.
- Penyampaian yang Solutif: Jangan hanya berfokus pada larangan atau ancaman dosa, melainkan berikan langkah-langkah praktis dan aplikatif yang dapat langsung diamalkan oleh jemaah setelah salat Jumat selesai.
- Pengaturan Waktu yang Tepat: Susunlah materi secara padat dan jelas agar durasi khutbah tetap proporsional, tidak terlalu panjang yang dapat membuat jemaah kehilangan konsentrasi, dan tidak terlalu pendek sehingga esensi materi tidak tersampaikan.
Contoh Teks Khutbah Tentang Bulan Muharram
1. Contoh Khutbah Jumat: Muharram Spirit Peningkatan Kualitas Ibadah
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Muharram Spirit Peningkatan Kualitas Ibadah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ. أَحْمَدُهُ حَمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانَ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ أَوَّلاً بِتَقْوَى اللهِ تَعَالىَ وَطَاعَتِهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puji bagi Allah swt, yang telah menganugerahkan kita kesempatan untuk terus hidup, bernapas, dan merasakan nikmat-nikmat-Nya setiap saat. Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, kita dapat terus menjalani kehidupan dengan penuh harapan dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri, khususnya pada momentum datangnya bulan Muharram, sebagai tanda datangnya tahun baru Islam.
Shalawat dan salam mari senantiasa kita haturkan kepada junjungan dan panutan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alih wa sahbih, sebagai tanda penghormatan dan kekaguman kita terhadap beliau yang merupakan suri tauladan bagi seluruh umat manusia. Semoga kita semua bisa terus istiqamah mengikuti jejak dan teladan yang telah dicontohkan olehnya, sehingga berada di barisan umat yang dibanggakan olehnya.
Kami selaku Khatib tak henti-hentinya mengajak dan mengingatkan kepada kami sendiri, keluarga dan semua jamaah yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk terus meningkatkan iman dan takwa, serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terus berusaha meningkatkan iman dan takwa, serta menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah
Menjadikan bulan Muharram sebagai pemacu semangat beraktivitas dan beribadah merupakan salah satu cara terbaik dalam menyambut tahun baru Islam. Bulan Muharram sendiri merupakan salah satu bulan yang memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri dari bulan-bulan yang lainnya, maka menjadikannya sebagai pemacu semangat untuk meningkatkan semua kualitas ibadah dan kebaikan adalah momentum yang sangat tepat.
Keistimewaan bulan Muharram tidak lain selain karena bulan pertama dalam kalender Hijriah ini menjadi bagian dari bulan haram. Kita semua dianjurkan untuk memperlakukan bulan-bulan haram ini dengan sebaik mungkin. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu,” (QS At-Taubah [9]: 36).
Pada ayat di atas, Allah menjelaskan kepada kita semua bahwa dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, dan di antara dua belas bulan itu terdapat empat bulan yang sangat dimuliakan (bulan haram), yaitu; (1) Dzulqa’dah; (2) Dzulhijah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Empat bulan ini disebut bulan haram tentu karena di dalamnya memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan dari bulan-bulan yang lainnya.
Dengan demikian, sangat tepat menjadikan bulan Muharram sebagai spirit penyemangat diri untuk meningkatkan ibadah aktivitas dan aktivitas lainnya. Sebab, pada bulan ini semua amal ibadah dan kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah swt, sebagaimana disampaikan oleh Imam Al-Baghawi dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an, jilid IV, halaman 44:
العَمَلُ الصَّالِحُ أَعْظَمُ أَجْرًا فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَالظُّلْمُ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهُنَّ
Artinya, “Amal saleh lebih besar pahalanya pada bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab). Sedangkan perbuatan zalim pada bulan tersebut (juga) lebih besar dari zalim di bulan-bulan selainnya.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah
Menumbuhkan semangat untuk berbenah dan semakin giat dalam melakukan kebaikan dan ibadah di setiap harinya merupakan salah satu ciri khas orang beriman. Rasulullah telah mengingatkan kepada kita semua, bahwa siapa saja yang hari-harinya lebih baik dari sebelumnya, maka ia adalah orang yang beruntung, namun jika sebaliknya, maka ia adalah orang yang terlaknat. Dalam salah satu hadits, Nabi saw bersabda:
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ
Artinya, “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan, siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).
Kiranya hadits ini menjadi penyemangat bagi kita semua, untuk menjadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, meningkatkan tanggung jawab, meningkatkan kewajiban dan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Sebab sangat merugi ketika Allah memberikan nikmat datangnya hari-hari yang baru bagi kita, di mana umur semakin berkurang, sementara kita tidak melakukan manfaat sedikit un di hari itu. Imam Ibnu Rajab dalam kitab Ghida-ul Albab, halaman 348 mengatakan:
أَلَيْسَ مِنْ الْخُسْرَانِ أَنَّ لَيَالِيَا، تَمُرُّ بِلا نَفْعٍ وَتُحْسَبُ مِنْ عُمْرِي
Artinya, “Bukankah termasuk kerugian, ketika malam-malam berlalu tanpa bisa meraih manfaat, padahal juga dihitung jatah umurku.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah
Karena itu, mari kita jadikan momentum datangnya bulan Muharram ini sebagai ajang untuk meningkatkan semangat dalam melakukan aktivitas dan ibadah. Sebab, menjadikan bulan ini sebagai pemacu semangat beraktivitas dan beribadah, merupakan momentum yang sangat tepat, karena semua amal ibadah dan aktivitas kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah swt, sehingga kita semua akan memanen pahala yang banyak dari ibadah dan kebaikan tersebut.
Demikian adanya khutbah Jumat perihal menjadikan bulan Muharram sebagai spirit penyemangat diri untuk meningkatkan kualitas beribadah dan aktivitas lainnya. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
2. Khutbah Jumat: Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dan Puasa Hari Asyura di Bulan Muharram
Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul, “Khutbah Jumat: Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dan Puasa Hari Asyura di Bulan Muharram”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أَمَّا بَعْدُ، فَيَاعِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَا أَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَقَالَ: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمِ
Sidang Jumah yang dirahmati Allah
Pertama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Dzat yang tiada hentinya melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua, termasuk nikmat taufik, hidayah, dan nikmat berjamaah Jumah seperti sekarang ini.
Shalawat teriring salam semoga tercurah kepada Baginda Alam, Habibana Muhammad saw. Shalawat dan salam juga semoga terlimpah kepada para sahabat, para tabiin dan tabiatnya, hingga kepada kita semua selaku umatnya.
Tak lupa, melalui minbar ini, khatib sampaikan pesan takwa dan kebaikan, agar kita senantiasa bersungguh-sungguh menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga kita mendapat ridha dan rahmat-Nya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Hadirin rahimakumullah
Sebagaimana kita ketahui, Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram. Dalam hadits, Rasulullah saw. bersabda:
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Artinya, “Zaman berputar seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhar, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Kemudian, seperti yang juga masyhur kita ketahui, di bulan Muharram ini ada satu hari istimewa yang disebut dengan hari Asyura. Tepatnya tanggal 10 Muharram. Hari ini kerap disebut sebagai lebaran anak yatim. Bukan tanpa alasan, amalan ini dianjurkan oleh Nabi saw karena keutamaan bulan Muharram dan keutamaan menyantuni yatim sendiri.
Di Tanah Air, kegiatan menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram alhamdulillah sudah membudaya. Perintah dan keutamaannya pun sudah ditandaskan langsung oleh Allah dalam Al-Quran:
وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرً
Artinya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al Insan [76]:8).
Sementara dalam hadits, perihal keutamaan menyantuni anak yatim ini telah dipesankan oleh Rasulullah saw:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
Artinya, “Abu Umamah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Barang siapa mengusap kepala yatim semata-mata karena Allah, maka setiap rambut yang ia usap memperoleh satu kebaikan. Barang siapa berbuat baik kepada yatim di sekitarnya, maka ia denganku ketika di surga seperti dua jari ini.” Nabi memisahkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengahnya.” (HR Ahmad).
Tak hanya itu, menyantuni dan mengusap kepala anak yatim, juga menjadi penawar hati yang keras, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.
أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ يَشْكُو قَسْوَةَ قَلْبِهِ، قَالَ: ” أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرَكَ حَاجَتُكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ
Artinya, “Pernah ada seorang laki-laki sowan kepada Rasulullah dan mengeluhkan kekerasan hatinya, lalu beliau berpesan, ‘Apakah kamu ingin hatimu lembut dan hajatmu terkabul? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, berilah ia makan dari makananmu, maka hatimu akan lembut dan hajatmu akan terkabul.’” (HR At-Thabarani).
Hadirin yang dirahmati Allah
Dari pesan ayat dan hadis di atas, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa syariat Islam begitu peduli terhadap nasib anak-anak yatim. Bahkan, Rasulullah saw telah mencontohkan secara langsung dan menunjukkan keutamaannya di akhirat kelak orang yang menyantuni anak yatim dengan dirinya seperti jari telunjuk dan jari tengahnya.
Masih banyak lagi keutamaan lainnya yang sepertinya tidak memungkinkan untuk diungkap seluruhnya di sini. Namun, poinnya adalah menyantuni anak yatim merupakan perbuatan mulia, wasilah keselamatan di akhirat, dijanjikan balasan surga, bahkan dekat Rasulullah saw di dalamnya, dan dilembutkan hati serta dekat dengan terkabulnya doa.
Selain itu, menyambut dan mengisi bulan Muharram, dapat kita lakukan dengan amaliah lainnya, antara lain dengan berpuasa Asyura, yang mana keutamaannya sudah masyhur di kalangan para ulama, yakni terhapusnya dosa-dosa satu tahun.
سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Artinya, “Nabi saw. ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.’” (HR. Muslim).
Hadirin rahimakumullah
Secara historis, puasa ini memang sudah biasa dilakukan oleh umat Yahudi. Menurut riwayat Ibnu Abbas, ketika tiba di Madinah, Nabi mendapatkan mereka malaksanakan puasa ‘Asyura (10 Muharam) dan mereka menyebutkan, “Ini adalah hari raya, yaitu hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Lantas, Nabi Musa a.s. berpuasa di hari tersebut sebagai wujud syukur kepada Allah.”
Lantas Nabi saw. bersabda, “Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Musa dibanding mereka.” Beliaupun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya. Namun untuk membedakan dengan umat Yahudi, puasa Asyura ini disertai dengan hari ke-9 atau hari ke-11. Demikian seperti yang dikemukakan oleh Syekh Abu Ishaq As-Syirazi dalam kitab At-Tanbih halaman 67.
Selain puasa di hari Asyura, berpuasa di hari-hari lainnya juga memiliki keutamaan yang luar biasa, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabarani dalam Al-Mu’jamus Shaghir:
وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا
Artinya, “Dan siapa saja yang berpuasa sehari di bulan Muharram maka berhak baginya baginya setiap hari mendapat pahala 30 hari puasa.” (HR At-Thabarani).
Demikian keutamaan menyantuni anak yatim dan puasa Asyura di bulan Muharram. Semoga kita termasuk orang yang mampu menunaikannya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أما بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰ لِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّار
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ